Senin, 09 November 2009

Tipologi Manusia

Tiga tipologi (pembagian) jenis hamba Allah di dunia yang ditawarkan oleh nabi Muhammad SAW. Pertama, orang yang sangat rugi yaitu orang yang amal perbuatan hari ini lebih jelek dari hari kemarin. Kedua, orang yang rugi yaitu orang yang amal perbuatan hari ini sama dengan hari kemarin. Orang yang masuk kategori pertama dan kedua adalah orang yang dlolim pada Allah dan pada dirinya sendiri. Sedangkan yang ketiga, orang yang beruntung yaitu orang yang amal perbuatan hari ini lebih baik dari yang kemarin.
Tiga tawaran diatas memberikan makna pada kita agar instrospeksi (melakukan koreksi) terhadap amal kebajikan masing-masing setiap hari. Yang terpenting sebagai catatan diatas adalah “hari ini”. Hal ini senada dengan filsafat hidup “ kemarin adalah kenangan, besok adalah sebuah harapan, dan hari ini adalah kehidupan yang sebenarnya”.
Dengan demikian kita tidak harus terlalu bangga terhadap amal perbuatan yang telah kita lakukan kemarin yang menyebabkan munculnya bangunan perasaan yang mengatakan bahwa “diriku telah sempurna” sehingga malas melakukan hal kebaikan, atau bahkan mengatakan bahwa “sudah cukup kebaikan dariku”. Na’udzu billahi min dzalik
Amal kebajikan sangat terkait dengan iman seseorang yang mempunyai sifat yazidu wa yankushu( (bertamba dan berkurang). Inilah, setidaknya, yang menyebabkan seseorang sulit mengantarkan, mempertahankan atau memujudkan dirinya menjadi manusia yang beruntung dalam perspektif ( menurut ) agama, kecuali orang-orang pilihan yang mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Namun setidaknya ada tawaran solusi (jalan keluar) agar seseorang tetap semangat intropeksi ( mengoreksi diri sendiri) untuk meningkatkan ibadah pada Allah, dengan menggunakan metode pendekatan daily calculation theory (teori kalkulasi keseharian).
Dalam durasi ( jangka waktu) sehari semalam, Allah SWT. telah memberikan nikmat berupa waktu kepada manusia sebanyak 24 jam (dua puluh empat jam) yang dapat digunakan oleh manusia untuk beraktifitas apa saja. Namun ada hal penting yang seharusnya tidak dilupakan bahwa semua perbuatan akan ada pertanggung jawabannya.
Marilah kita kalkulasi ( hitung) dan klasifikasi, dalam durasi waktu tersebut, berapa waktu yang kita gunakan dzikir kepada Allah dan berapa waktu yang kita gunakan untuk mengingat selain Allah SWT. Semuanya dimaksudkan untuk melihat dlolim dan tidaknya diri kita.
Misal, jika setiap ibadah sholat 5 (lima) waktu sehari semalam, kita menghabiskan waktu 10 (sepuluh) menit. Kemudian dikalikan sholat lima waktu, yakni, dhuhur, ashar, maghrib, isyak, dan subuh berarti jumlah total adalah sebanyak 50 (lima puluh) menit. Angka tersebut belum mencapai taraf jumlah 1 (satu) jam.
Jika, dua puluh empat jam (24 jam) waktu yang telah kita terima dari Allah SWT., dikurangi 50 menit (lima puluh menit), maka sama dengan 1.380 menit atau 23 jam (dua puluh tiga jam ) lebih 10 (sepuluh) menit.
Kita mesti sadar dan tak dapat dipungkiri bahwa kita tetap butuh waktu istirahat. Anggaplah alokasi untuk istirahat sebanyak 10 jam. Jumlah waktu sisa, 23 jam lebih 10 menit, dikurangi 10 (sepuluh) jam lagi untuk istirahat, ternyata masih tersisa 13 (tiga belas) jam lebih 10 (sepuluh) menit.
13 jam lebih 10 menit adalah waktu luang yang biasa kita gunakan untuk mengingat selain Allah SWT. Hingga perbandingan waktu antara mengingat Allah dengan mengingat selain Allah adalah 50 menit di banding 13 jam lebih 10 menit ( 50 : 13,10 jam)
Tanpa kita sadari, ternyata kita masih termasuk orang yang dlalimun linafsi ( tidak adil atau menganiaya diri sendiri), karena belum mampu menyeimbangkan antara mengingat Allah dan mengingat selain Allah.
Kita termasuk orang yang menyia-nyiakan waktu, betapa tidak!! waktu yang kita gunakan ibadah hanya 50 (lima puluh menit) kurang dari satu jam. Waktu ini sangat sedikit sekali, coba kita bandingkan dengan aktifitas yang lain. Kalau kita gunakan melihat hiburan, misal melihat sinetron televisi, dua jam dalam satu majelis seakan terasa sebentar. Belum lagi dengan aktifitas “ngobrol” dan “ngerumpi” masalah orang lain, 3 (tiga) jam tidaklah cukup, bahkan terasa hanya sesaat. Mungkin pertanyaan yang tepat adalah “ ada apa dengan kita”?????
Padahal kita sudah tahu untuk apa sebenarnya kita diciptakan oleh Allah. Dengan demikian bagimana dengan pertanggung jawaban kita besok di hari akhir.
Untuk itu marilah berusaha meningkatkan intensitas dzikir dan beribadah kita pada Allah SWT. atau paling tidak kita menambah beberapa menit lagi waktu sholat wajib kita. Yang biasanya 10 menit ditingkatkan menjadi 15 menit dan setersusnya, agar kita termasuk golongan manusia yang beruntung dalam perspektif ( pandangan) agama.



24 jam adalah nikmat berupa waktu.
10 menit X sholat 5 waktu = 50 menit
24 jam – 50 menit = 23 jam lebih 10 menit
23 lebih 10 menit – 10 jam untuk istirahat =
13 jam lebih 10 menit
jumlah terakhir adalah waktu luang.
tingkat perbandingannya adalah
50 menit : 13 jam lebih 10 menit